Senin, 12 Mei 2014

IDENTIFIKASI AGAMA BUDDHA PADA MASA BUDDHISME AWAL

BAB I
PENDAHULUAN

Transformasi merupakan perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi, dsb)[1]. Transformasi juga dapat diartikan sebagai suatu perubahan pola pikir masyarakat teradap suatu fungsi yang dapat memenuhi kebutuhannya. Transformasi bukan hanya terjadi pada suatu negara atau suatu lapisan masyarakat dalam tujuan tertentu, transformasi juga dapat terjadi dalam suatu ajaran agama. Agama yang mengalami transformasi tentu memiliki berbagai macam latar belakang yang mengakibatkan suatu transformasi tersebut, baik itu perkembangan pemikiran masyarakat agama tersebut atau karena pengaruh dari perkembangan suatu peradaban atau zaman.
Buddhisme adalah sebuah agama dan filsafat yang berasal dari anak benua India dan meliputi beragam tradisi kepercayaan, dan praktik yang sebagian besar berdasarkan pada ajaran yang dikaitkan dengan Siddhartha Gautama, yang secara umum dikenal sebagai Sang Buddha (berarti “yang telah sadar” dalam bahasa Sanskerta dan Pāli). Sang Buddha hidup dan mengajar di bagian timur anak benua India dalam beberapa waktu antara abad ke-6 sampai ke-4 SM (Sebelum Masehi). Beliau dikenal oleh para umat Buddha sebagai seorang guru yang telah sadar atau tercerahkan yang membagikan wawasan-Nya untuk membantu makhluk hidup mengakhiri ketidaktahuan/kebodohan (avijjā), kehausan/napsu rendah (taṇhā), dan penderitaan (dukkha), dengan menyadari sebab musabab saling bergantungan dan mengikis kekotoran batin yang menjadi sebab dari penderitaan, hancurnya atau lenyapnya kekotoran batin tersebut dinamakan Nibbāna. Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai rujukan utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran sang Buddha Gautama. Murid-murid yang masih mewarisi ajaran dari Buddha kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piṭaka (kotbah-kotbah Sang Buddha), Vinaya Piṭaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu dan bhikkhunī) dan Abhidhamma Piṭaka (ajaran yang tinggi atau luhur).

Leaflet Pabbajjā Sāmaṇera Sementara 2 Minggu – Vihāra Mendut, Magelang – Jawa Tengah



Leaflet Pabbajjā Sāmaṇera Sementara 2 Minggu – Vihāra Mendut, Magelang – Jawa Tengah

MENCIPTAKAN KELUARGA HARMONIS DENGAN CARA KEPEMIMPINAN MENURUT BUDDHISME



MENCIPTAKAN KELUARGA HARMONIS
DENGAN CARA KEPEMIMPINAN MENURUT BUDDHISME
Oleh: Sāmaṇera Guṇavaro Guṇapiyo

Attā have jitaṁ seyyo   Yā cāyaṁ itarā pajā
Attadantassa posassa  niccaṁ saññatacarino.
Menaklukan diri sendiri sesungguhnya lebih baik, Daripada menaklukan orang lain.
Orang yang dapat menaklukan diri sendiri, Selalu dapat mengendalikan diri.
(Dhammapada: 104)

Pendahuluan
Kehidupan berumah tangga tidak luput dari keinginan untuk memiliki keluarga yang rukun dan bahagia. Keluarga mana di dunia ini yang tidak ingin hidup bahagia dan penuh dengan kerukunan, tentu semuanya mendambakan hal tersebut. Namun ketika suatu keluarga memiliki keinginan tersebut, apa yang mereka lakukan untuk mencapainya? Tujuan bias sama, cara selalu berbeda. Kesuksesan sebuah keluarga ditentukan oleh seberapa baik pemimpin keluarga dapat memimpin dan mengarahkan keluarganya untuk mencapai tujuan-tujuannya, akan tetapi pemimpin disini bukan hanya seorang suami, seorang isteri juga termaksud pemimpin dalam sebuah keluarga, memimpin dalam hal urusan rumah, urusan merawat anak, termaksud mengurus sang suami, demikian juga suami dan isteri (orangtua) adalah pemimpin bagi anak-anaknya, karena bagaimanapun seorang anak akan mencontoh setiap hal yang orangtuanya lakukan. Dengan demikian perlu adanya cara bagaimana memimpin keluarga dengan baik dan benar, sehingga dapat membimbing menuju pencapaian tujuan, keluarga yang penuh kedamaian.

Sabtu, 10 Mei 2014

Suasana di depan Kuti - Vihāra Dhamma Pañña, Kaloran - Temanggung, Jawa Tengah

Maaf kalau fotonya buram, maklum foto pake webcam laptop, jadi hasil tidak memuaskan. hehehe

Gunung yang tampak adalah Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Perjalanan ku di Kaloran, Temanggung - Jawa Tengah



Sabtu, 10 Mei 2014 ­– Suasana sejuk di pagi hari mulai menghampiri, kubuka jendela kamar ku tatap ke luar, suara air yang menambah ketenangan ikut melantunkan suaranya, saat kaki ini beranjak keluar tampak keindahan alam yang mata ini baru pertama kali merasakannya. Ya! Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, keduanya tepat berada di depan kamar saya. Desa Kali Manggis, Kaloran – Temanggung, Jawa Tengah, daerah yang hampir sebagian besar penduduknya beragama Buddha.
            2 minggu lamanya saya akan tinggal di tempat ini. Tempat yang tidak ramai, tidak juga sepi, cukup hening dan merupakan tempat yang indah. Tak dapat ku bayangkan sampai sejauh ini, tinggal di tempat yang sejuk dan damai, umat Buddha yang  berada di tempat saya tinggal sangat antusias mempelajari Dhamma, mreka semua melukiskan wajah-wajah yang sangat menghargai kedamaian, menghargai kerukunan, dan menghargai sesame, bukankah itu cerminan apa yang mreka pelajari mereka praktikan dalam keseharian, Dhamma.
            Vihara Dhamma Pañña, demikian nama Vihāra tempat saya tinggal selama 2 minggu kedepan, mulai dari 8 mei – 21 mei 2014. Peminaan Sāmaṇera dalam masyarakat lah yang sedang saya laksanakan, menyambut peringatan Vesak 2558/2014. Hari pertama datang ke tempat ini sudah banyak saya bertukar bicara dengan umat, dan yang tidak menjadi asing, tempat ini merupakan tempat dimana beberapa Guru Agama saya di Karawang berasal, jadi ketika berbicara semua terasa lancar tanpa hambatan, walaupun saya masih agak canggung untuk sekedar bergabung bersama umat. Tepat hari ini perayaan Vesak dan ulang tahun Vihāra Dhamma Pañña, Bhante Jotidhammo turut hadir, lalu apa yang akan terjadi di hari ini? Yup, just thinking ‘all be okay’. Salam Metta, Sāmaṇera Guṇavaro Guṇapiyo.

Kamis, 08 Mei 2014

PESAN WAISAK 2558/2014 SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA



Empatbelas Pedoman Latihan ‘Interbeing’ (Oleh Thich Nhat Hanh) *Terjemajan


Empatbelas Pedoman Latihan ‘Interbeing’[1]
Oleh: Thich Nhat Hanh

Latihan Perhatian (Sati) yang Pertama: Membuka
Sadar bahwa penderitaan diciptakan oleh sikap fanatik dan tidak toleran, kami bertekat untuk tidak menggagungkan  atau terikat terhadap ideologi, teori, atau doktrin apapun, termasuk Buddhis. Ajaran Buddha adalah pedoman yang artinya membantu kita untuk belajar melihat secara mendalam dan untuk mengembangkan pengetahuan dan kewelasasihan kita.

Latihan Perhatian (Sati) yang Kedua: Tidak Melekat Pada Pandangan-pandangan
Sadar bahwa penderitaan diciptakan oleh kelekatan terhadap pandangan-pandangan dan presepsi salah, kami bertekad untuk menghindari berpikiran sempit dan terikat terhadap pandangan-pandangan saat ini. Kami akan belajar dan praktik tidak melekat terhadap pandangan-pandangan agar menjadi terbuka terhadap pemahaman dan pengalaman orang lain. Kita sadar bahwa pengetahuan kita saat ini tidak dapat merubah, kebenaran mutlak. Kebenaran ditemukan dalam kehidupan dan kita akan melihat kehidupan di dalam dan  di sekeliling kita di setiap momen.