BAB I
PENDAHULUAN
Transformasi merupakan perubahan rupa (bentuk, sifat,
fungsi, dsb)[1].
Transformasi juga dapat diartikan sebagai suatu perubahan pola pikir masyarakat
teradap suatu fungsi yang dapat memenuhi kebutuhannya. Transformasi bukan hanya
terjadi pada suatu negara atau suatu lapisan masyarakat dalam tujuan tertentu,
transformasi juga dapat terjadi dalam suatu ajaran agama. Agama yang mengalami
transformasi tentu memiliki berbagai macam latar belakang yang mengakibatkan
suatu transformasi tersebut, baik itu perkembangan pemikiran masyarakat agama
tersebut atau karena pengaruh dari perkembangan suatu peradaban atau zaman.
Buddhisme adalah sebuah agama dan filsafat yang
berasal dari anak benua India dan meliputi beragam
tradisi kepercayaan, dan praktik yang sebagian besar berdasarkan pada ajaran
yang dikaitkan dengan Siddhartha Gautama, yang
secara umum dikenal sebagai Sang Buddha (berarti “yang telah sadar” dalam
bahasa Sanskerta dan Pāli). Sang
Buddha hidup dan mengajar di bagian timur anak benua India dalam beberapa waktu
antara abad ke-6 sampai ke-4 SM (Sebelum Masehi). Beliau dikenal oleh para umat
Buddha sebagai seorang guru yang telah sadar atau tercerahkan yang membagikan
wawasan-Nya untuk membantu makhluk hidup mengakhiri ketidaktahuan/kebodohan (avijjā),
kehausan/napsu rendah (taṇhā), dan penderitaan (dukkha), dengan
menyadari sebab musabab saling bergantungan dan
mengikis kekotoran batin yang menjadi sebab dari penderitaan, hancurnya atau
lenyapnya kekotoran batin tersebut dinamakan Nibbāna. Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka
sebagai rujukan utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran sang Buddha
Gautama. Murid-murid yang masih mewarisi ajaran dari Buddha kemudian mencatat
dan mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piṭaka
(kotbah-kotbah Sang Buddha), Vinaya Piṭaka
(peraturan atau tata tertib para bhikkhu dan bhikkhunī) dan Abhidhamma Piṭaka (ajaran yang tinggi atau
luhur).




