Samana Sasana merupakan Blog yang dibuat untuk menampung beberapa artikel Dhamma, dimana dengan tersedianya artikel-artikel Dhamma baik ilmiah maupun ilmiah orang-orang yang ingin mempelajari Dhamma dapat manjadi lebih mudah, atau hanya untuk mendapat bahan-bahan pembicaraan bagi para pembicara muda. Semoga dengan hadirnya blog ini, dapat membawa manfaat dan kebahagaiaan bagi para pembaca.
Minggu, 28 September 2014
Jumat, 12 September 2014
Sabtu, 23 Agustus 2014
MENGHADAPI STRES DENGAN KOTBAH PERTAMA SANG BUDDHA TENTANG CĀTTARI-ARIYA-SACCĀNI ― EMPAT KEBENARAN ARIYA
Oleh: Sāmaṇera Yogi Guṇavaro Guṇapiyo
Imasmiṁ sati idaṁ hoti;
imassa upādā idaṁ uppajjati.
Imasmiṁ asati idaṁ na hoti;
imassa nirodhā idaṁ nirujjhati.
“Dengan adanya ini maka ada
itu; dengan munculnya ini muncullah itu.
Dengan tidak adanya ini; maka
tidak ada itu.
Dengan lenyapnya ini;
maka lenyaplah itu.”
Stres sudah menjadi hal yang
wajar datang pada setiap orang. Pengalaman seseorang mengenai stres beragam,
ada yang stres karena belajar, ada yang stres karena pekerjaan, ada yang stres
karena rumahtangga, ada juga yang stres karena tidak diperhatikan, stres yang
tertinggi adalah stres karena tidak mendapatkan orang yang kita cintai, orang
bilang bisa gak makan tiga hari tiga malam. Stres dalam ilmu psikologi dan kedokteran merupakan istilah teknik yang
didefinisikan sebagai kekuatan pada suatu bidang. Dalam bukunya yang berjudul Psychology and Life, Philip Zimbardo
mengatakan ada empat level yang berhubungan dengan reaksi seseorang terhadap
tekanan-tekanan tersebut. Keempat hal tersebut adalah: level emosi, level
prilaku, level fisiologis, dan lefel kongnitif. Respon emosi terhadap stres
meliputi kesedihan, depresi, dan kemarahan, bahkan frustasi. Respon prilaku
meliputi konsentrasi melemah, pelupa, dan produktivitas yang menurun. Respon
fisiologis meliputi ketegangan jasmani, sakit kepala, dan tekanan darah tinggi.
Respon pada level kongnitif meliputi kehilangan kepercayaan diri dan putus asa.
PELAKU KEBAJIKAN MEMBANGUN KEKUATAN YANG MELINDUNGI
(Oleh Sāmaṇera Guṇapiyo)
Attā hi attano nātho
Ko hi nātho paro siyā
Attanā hi sudantena
nāthaṁ labhati dullabhaṁ.
“Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi
dirinya sendiri,
Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi
dirinya?
Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan
baik,
Ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat
sukar dicari.”
(Dhammapada:1)
Manusia
mana di dunia ini yang tidak ingin memiliki suatu kekuatan yang mampu
melindungi dirinya. Melindungi dari berbagai macam bahaya, ancaman, dan bahkan
bencana alam sekalipun. Dari keinginan itulah setiap orang berusaha mencari
yang namanya perlindungan – mencari kekuatan lebih, dan bukan lain untuk
memberikan rasa aman, bebas dari ketakutan, dan ketenangan bagi dirinya.
Orang-orang kaya mencari kekuatan untuk melindungi dengan cara membayar petugas
keamanan, satpam atau bodyguard. Para
pemimpin negara tentu memiliki juga pengamanan untuk melindunginya, di
Indonesia dikenal ‘Paspampres’ atau Pasukan pengawal presiden. Secara alami
ketika hujan manusia mencari perlindungan agar tidak basah karena air hujan.
Ketika panas manusia pada umumnya mencari tempat untuk berteduh dari terik matahari.
Menggunakan pakaian untuk melindungi tubuh, mengenakan alas kaki untuk
melindungi kaki, dan lain sebagainya. Namun apakah perlindungan itu bersifat
permanen? Apakah semua alat atau kekuatan tersebut mampu melindungi mereka dari
segala macam ancaman?
Dalam Dhammapada dikatakan “Attā hi attano nātho,” yang berarti “diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung
bagi diri sendiri.” Dalam hal inilah Buddhisme menekankan, bahwa
sesunggunya perlindungan atau kekuatan yang paling baik ada di dalam diri,
bukan di luar diri – di gunung-gungung, di gua-gua, atau di hutan-hutan. Lalu
bagaimana cara untuk membangun kekuatan untuk melindungi yang ada pada dalam
diri kita, membangun potensi yang sudah ada, menggembangkannya sehingga dapat
kita gunakan.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
PEMIMPIN DALAM PANDANGAN AGAMA BUDDHA Oleh: S ā ma ṇera Yogi Guṇavaro Guṇapiyo “Yo sahassa ṁ sahassena sa ṅgāme mānuse jine ...
-
SAHABAT YANG BAIK DAN BIJAKSANA Oleh: Sāmaṇera Yogi Guṇavaro Guṇapiyo Sa c ce labhetha nipakaṁ sahāyaṁ saddhiṁ caraṁ sādh...
-
SEKILAS DHAMMA UNTUK MELEGAKAN DAHAGA KEBAHAGIAAN KARENA MELEPAS Oleh: Bhikkhu Guṇapiyo Sabbehi me piyehi manāpehi nānābhāvo vi...




