Kamis, 20 Agustus 2015

KETAHUI SIAPA DIRIMU DAN BERIKAN REVOLUSI UNTUKNYA



KETAHUI SIAPA DIRIMU DAN BERIKAN REVOLUSI UNTUKNYA
(Mengulas Vajirupamasutta dan Pañca-anupubbikatha)
Oleh: Bhikkhu Guṇapiyo

Attānañce piyaṁ jaññā,
rakkheyya naṁ surakkhitaṁ
tiṇṇamaññataraṁ yāmaṁ,
paṭijaggeyya paṇḍito’ti

Bila orang mencintai dirinya sendiri,
maka ia harus menjaga dirinya dengan baik.
Orang bijaksana waspada selama tiga masa dalam kehidupannya.
(Dhammapada, Atta Vagga: 157)


Ada orang yang baik, ada orang yang kurang baik. Ada orang yang pintar, ada orang yang kurang pintar. Ada orang yang mudah diajar, ada juga orang yang kuang ajar. Ada wanita cantik, ada pria tampan. Ada yang kurang cantik atau tampan, ada juga sang sangat kurang cantik dan tampan. Keberagaman, perbedaan, dan uniknya satu dengan yang lainnya, itulah warna dari kehidupan ini. Setiap manusia, setiap makhluk, memiliki perbedaan masing-masing, sekalipun dia adalah anak kembar – kembar identik akan tetapi dalam hal sifat atau karakter keduanya pasti memiliki sifat yang berbeda. Sifat atau kebiasaan yang membedakan satu dengan yang lainnya, menentukan tingkat keberhasilan seseorang di dalam hidupnya, baik itu dalam hal kesuksesan materi atau batin (mental).
            Perbedaan-perbedaan yang ada dapat kita lihat dari berbagai macam sudut pandang. Misalkan saja dilihat dari kemampuan intelektual, kemampuan spiritual, atau kemampuan emosionalnya. Guru Agung Buddha di dalam salah satu kelompok ajarannya menguraikan perihal jenis-jenis individu – jenis-jenis manusia, yang ditinjau bedasarkan pikirannya. Uraian tersebut terdapat di dalam salah satu Nikāya yaitu, Aṅguttara Nikāya III, Vajirupama-sutta[1]. Vajirupama-sutta berarti sutta dengan perumpamaan berlian atau kilat (vajira: berlian/kilat), dimana di dalam sutta ini, Buddha menjabarkan mengenai tiga jenis manusia bedasarkan pikirannya. Apa saja tiga jenis tersebut?

1.       Arukūpamacitto-puggala
Perumpamaan manusia dengan pikiran seperti luka menganga. Di sini, seseorang mudah marah dan mudah gusar. Bahkan jika ia dikritik sedikit maka ia akan kehilangan kesabarannya dan menjadi jengkel, melawan, dan keras kepala; ia memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. Seperti halnya luka bernanah, jika ditusuk dengan tongkat atau digaruk-garuk, akan mengeluarkan lebih banyak cairan lagi, demikian pula seseorang di sini berprilaku demikian. Orang ini dikatakan memiliki pikiran yang bagaikan luka terbuka.



2.       Vijjūpamacitto-puggala
Perumpamaan manusia dengan pikiran seperti kilat halilintar. Di sini, seseorang memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan,’ dan ‘Ini adalah asal-mula penderitaan,’ dan ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan,’ dan ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Seperti halnya, dalam kegelapan malam, seseorang yang berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk melalui cahaya kilat halilintar, demikian pula seseorang di sini memahami sebagaimana adanya hal-hal tersebut. Orang seperti itu dikatakan memiliki pikiran bagaikan kilat halilintar.

3.       Vajirūpamacitto-puggala
Perumpamaan manusia dengan pikiran seperti berlian. Di sini seseorang telah seutuhnya mencapai kebebasan pikiran yang tanpa noda, merealisasinya dengan pengalaman langsung. Kebebasan pikiran yang tanpa noda, adalah dimana keserakahan, kebencian, dan delusi lenyap dan terkikis. Orang yang demikian diperumpamakan seperti berlian, karena dari sekian banyak permata dan batuan hanya berlianlah yang dapat memotongnya. Berlian jugalah yang selalu bertahan dengan nilai keindahannya, tidak butuh waktu tertentu.

Dari ketiga jenis individu atau manusia tersbut, yang ketiga lah yang terbaik. Menjadi manusia dengan pikiran seperti berlian, yang terbebas dari kotoran batin. Layaknya berlian yang tidak dengan instan muncul begitu saja, mebutuhkan waktu yang panjang untuk mengkristal. Demikian juga dengan kita sebagai manusia, tidak ada cara instan untuk melenyapkan kotoran batin yang ada di dalam diri. Semua proses pengkristalan dimulai dari usaha gigih, keuletan, dan proses pembelajaran yang baik. Semua butuh proses, untuk itu jangan pernah protes akan suatu proses.

Lantas bagaimana jika kita sebagai manusia sudah terlanjur menjadi manusia dengan pikiran seperti luka menganga? Sudah teralu sering emosi, mudah naik darah, tidak senang dinasihati. Revolusi lah solusinya. Revolusi mental, revolusi batin adalah solusi untuk merubah diri ini ke arah yang lebih baik, ke arah pengkristalan menuju manusia dengan pikiran layaknya berlian. Revolusi batin atau mental yang seperti apa yang Guru Agung Buddha berikan untuk hal tersebut?

2600 tahun yang lalu, saat setelah Buddha memperoleh pencapaian sempurnanya datang dua orang pedagang ke hadapannya. Saat itu kedua pedagang tersebut yaitu Tapusa dan Balika, memohon kepada Buddha untuk memberikan beberapa ajarannya. Pada saat itulah Guru Agung Buddha menguraikan lima hal yang dapat membantu seseorang untuk memiliki mental yang maju dan  berkembang, atau pañca-anupubbikata[2]. Lima hal tersebut adalah;


1.      Dāna
Tidak melekati sesuatu dengan cara mau berbagi apa yang dimiliki untuk kebahagiaan dan manfaat makhluk / orang lain. Melekat terhadap suatu hal adalah awal seseorang tidak dapat tumbuh maju dan berkembang, memasuki zona nyaman dan terbiasa dengan hal tersebut.
2.      Sīla
Dasar dari pelaksanaan sīla adalah metta, yaitu cinta kasih terhadap semua makhluk tanpa terkecuali. Memiliki cinta kasih berarti mendorong diri pada pelaksanaan sīla yang baik, karena pada dasarya tanpa cinta kasih, pelaksanaan sīla tidak akan berjalan. Jika seseorang telah memiliki cintakasih, maka kemanapun ia pergi, ia akan damai dan berbahagia. Kedamaian dan kebahagiaan yang ia miliki, adalah bentuk dari mental yang maju dan berkembang. Kalau sudah demikian yang namanya emosi, keras kepala egois, dan mudah sakit hati, tidak akan ada.
3.      Sagga
Merupakan hasil dari pelaksanaan dāna dan sīla yaitu, kebahagiaan-kebahagiaan di alam dewa. Hal tersebut disampaikan oleh Guru Agung Buddha dengan maksud untuk memotivasi kita, agar kita mau melaksanakan praktik-praktik yang ada. Bukankah ketika seseorang mengetahui hasil atau manfaat dari suatu hal, maka ia akan jauh lebih bersemangat untuk mendapatkannya? Demikian juga halnya dengan sagga, yang bertujuan untuk membuat kita semakin semangat dalam melaksanakan praktik-praktik Dhamma.
4.      Kamadinava
Tidak seperti promosi lainnya yang ketika ada syarat dan ketentuan berlaku ditulis kecil-kecil. Guru Agung Buddha dalam hal ini menjelaskannya secara gamblang, secara terang bahwa, sekalipun kita mendapatkan hasil yang baik, kita patut berwaspada. Mengapa kita patut berwaspada, karena di dalam hasil yang kita dapatkan ada bahaya-bahaya yang menanti kita. Bahaya-bahaya tersebut akan muncul ketika kita teralu bersenang-senang, teralu menikmati dengan nafsu berlebih hasil-hasil yang kita peroleh. Dalam bagian inilah kita diminta untuk membentengi kehidupan ini dengan pengendalian akan kesenangan-kesenangan indera, dengan apa benteng tersebut dapat kita bangun? “Meditasi.” Dengan meditasi-lah kita dapat melihat bahaya-bahaya tersebut, dan dengan melihat bahaya-bahaya yang ada kita akan senantiasa terkendali dalam kehidupan ini, sehingga kita tidak terjerumus di dalam bahaya tersebut.
5.      Nekhamanisaṁsa
Terakhir adalah faedah-faedah dari peninggalan kesenangan-kesenangan indera, atau bisa dikatakan Nibbāna. Pada tahap inilah mental seseorang telah menemui titik pengkristalannya, seutuhnya menjadi manusia dengan pikiran seperti berlian. Ketika kita mampu meninggalkan kesenangan-kesenangan indera, dan terlatih dalam hal pengendalian, kemudian mampu melenyapkan kotoran batin yang ada di dalam diri ini, maka kita telah merevolusi batin, metal, atau diri ini ke arah yang jauh lebih baik.

Itulah kelima hal yang Guru Agung Buddha berikan sebagai solusi untuk merevolusi mental ini menuju kerah yang jauh lebih baik, ke arah pengkristalam untuk menjadi manusia dengan pikiran seperti berlian.



Kesimpulan
Memahami dengan baik apa yang Guru Agung Buddha ajarkan, kita hendaknya mau untuk mempraktikannya. Karena awal dari keberhasilan seseorang baik itu dalam hal materi atau mental adalah mau menjalankan apa yang telah ia rencanakan, yang telah ia ketahui, yang telah ia pahami, jalan mana untuk mencapai semua itu. Sifat, karakter, kebiasaan, tabiat seseorang bisa saja berbeda, akan tetapi tujuan dari masing-masing pribadi mereka adalah sama, yaitu memperoleh kebahagiaan. Ada manusia yang ingin bahagia dengan cara yang baik, cara yang sesuai dengan Dhamma, ada juga yang ingin bahagia tetapi menggunakan cara-cara singkat. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, menghiraukan ketidak-baikan untuk apa yang dianggapnya baik, dari situlah ‘kepalsuan’ kemudian muncul. Kepalsuan beredar dimana-mana, di dunia politik, di dunia pendidikan, di dunia ekonomi, bahkan yang menjadi parah kepalsuan pun beredar di dunia keagamaan – Bhikkhu palsu, pandita palsu, bahkan umat Buddha palsu. Mari kita belajar untuk mengenal Dhamma lebih jauh, mengenal Dhamma lebih dalam, dan mempraktikan Dhamma dengan sungguh-sungguh, karena dengan cara demikianlah ‘kepalsuan’ dapat dicegah.

Referensi:
-          Bodhi, Bhikkhu. 2012. The Numerical Discourses of the Buddha (A Translation of Aṅguttara Nikāya). Wisdom Publication; Boston.
-          . 2013. Kitab Suci Dhammapada. Bahussuta Society; Singkawang Selatan.
-          Vajirananavarorasa, H.R.H. The Late Ptriarch Prince. (alih bahasa Bhikkhu Jeto). 2013. Dhamma Vibhāga. Vidyāsenā Vihāra Vidyāloka; Yogyakarta.


[1] Bodhi, Bhikkhu. 2012. The Numerical Discourses of the Buddha (A Translation of Aṅguttara Nikāya). Wisdom Publication; Boston (hlm. 219)
[2] Vajirananavarorasa, H.R.H. The Late Ptriarch Prince. (alih bahasa Bhikkhu Jeto). 2013. Dhamma Vibhāga. Vidyāsenā Vihāra Vidyāloka; Yogyakarta. (hlm. 165)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar