Kamis, 20 Agustus 2015

KEBAHAGIAAN KARENA MELEPAS



SEKILAS DHAMMA UNTUK MELEGAKAN DAHAGA
KEBAHAGIAAN KARENA MELEPAS
Oleh: Bhikkhu Guṇapiyo

Sabbehi me piyehi manāpehi nānābhāvo vinābhāvo
(segala miliku yang kucintai dan kusenangi wajar berubah, wajar terpisah dariku)


Kebahagiaan sejati bagi umat Buddha adalah kebahagiaan karena melepas. Kalimat pembuka tersebut mungkin dapat menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung selesai, mengapa demikian? Karena tidak sesuai dengan pola kebiasaan. Sisi lain menyatakan, bahagia itu ketika memiliki ini dan itu, memiliki sesuatu atau sepuluhatu, yang pasti dapat memiliki apa yang diinginkan. Buddhisme memiliki cerita dan pola lain dalam menyatakan kebahagiaan sejati, bahkan menurut mata seorang Buddhis, lahir di alam surga pun! Belum termasuk dalam kebahagiaan sejati.

Melepas berarti tidak menggenggam, tidak melekati, tidak memeluk, tidak menyimpan terus menerus, dan tidak yang tidak-tidak. Mengapa tidak menggenggam atau melepas merupakan kebahagiaan sejati menurut Buddhisme? Mari kita awali dengan satu cerita.

Suatu pagi yang cerah, lari dengan bahagia seorang pemuda tampan bernama Rukkha. Ia sangat senang sekali, sangat bahagia, karena di pagi itu ia mendapatkan hadiah dari kedua orangtuanya. Hadiah ini sudah ia idam-idamkan lama sekali, sebuah gadget canggih keluaran terbaru, sebut saja Apem 6-. Anak muda mana yang tidak menginginkannya, semua ingin memilikinya, bahkan dengan segala cara. Berbeda dengan Rukkha, ia memperolehnya dengan cara susah payah, ia bekerja membantu kedua orangtuanya selama berminggu-minggu, menjaga toko dan melayani pembeli. Senangnya Rukkha saat itu tidak bisa dituliskan atau digambarkan, ia sangat mengagumi barang tersebut, ia sangat bangga dengan perolehannya, hingga tidak sadar.... ia menderita, ia takut, ia sedih, ia merasa tidak aman, kenapa? Rukkha enggan membuka bungkus plastiknya, enggan membuka kardusnya, bahkan ia enggan menggunakannya. Ia teralu senang, ia teralu bangga, sampai ia takut barang itu rusak, dicuri, dipinjam, di.. di.. di... dan jadilah ia menderita.

            Apa kaitan cerita di atas dengan ungkapan pada kalimat pembuka pada paragraf awal? Rukkha seorang pemuda tampan yang awalnya bagaia menjadi tidak bahagia karena ia enggan melepas bungkus dan membuka kotak dari Apem 6- nya, ia enggan menggunakannya. Dalam hal ini melepas bukan berarti semudah itu, bukan berarti melepas bungkus atau kotak kemasan saja. Dasar permasalahan bagi Rukkha adalah ia tidak mau melepas, melepas ketakutan akan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada barang yang dimilikinya. Melepas kecemasan, melepas ketakutan, melepas keragu-raguan, itulah permasalahannya. Terkadang kita hidup di dunia ini teralu menggenggam ‘ketakutan’ dan ‘kecemasan’, sehingga kita sangat sulit untuk move on, bergerak maju kedepan, bergerak untuk sukses. Dan terlebih lagi melakukan perubahan. Tidak menggenggam pada kecemasan bukan berarti kita tidak melakukan perencanaan, perencanaan memang perlu dan memikirkan segala kemungkinan juga perlu, akan tetapi jangan sampai ketakutan dan kecemasan terus membayangi kita, terus mengikuti kita dan sulit untuk dilepas.

Praktik Dāna yang diajarkan oleh Guru Agung Buddha bukan hanya sekedar melepas materi, melepas barang. Dāna juga bukan sekedar memasukan lembaran rupiah ke dalam kotak dana atau ke dalam kantong dana. Tetapi inti dari praktik Dāna adalah melepas, tidak menggenggam, sehingga mendorong kita untuk tidak melekat pada suatu hal, termasuk kecemasan dan ketakutan. Ketika kedua hal tersebut mampu kita lepas, disanalah kebahagiaan akan kita rasakan. Kebahagiaan sejati, kebahagiaan ketika kita mampu meleapas. Beban yang kita bawa sudah teralu banyak, ada kalanya kita turunkan dan kita lepas. Bayangkan saja oleh kita semua, ketika kita melepas kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan, apakah hidup kita damai? Apakah kita akan tenang kemanapun? Apakah ketika kita tenang dan damai, itu bukan kebahagiaan? Jelas itu adalah kebahagiaan, jelas itulah kebahagiaan sejati. Untuk itu, mari kita bersama-sama melepas, melepas segala keterikatan kita terhadap suatu hal, agar kebahagiaan ada pada kita. Melepas, tidak terikat, bukan berarti kita tidak boleh memiliki sesuatu, tetapi sejatinya pahamilah, bahwa segala sesuatu pasti berubah, segala sesuatu wajar terpisah dari kita. “Sabbehi me piyehi manāpehi nānābhāvo vinābhāvo” (segala miliku yang kucintai dan kusenangi wajar berubah, wajar terpisah dariku).

Didalam salah satu sutta Majjhima NikāyaBhaddekaratta Sutta, Guru Agung Buddha mengatakan bagaimana seseorang dapat memiliki satu malam yang baik, yaitu dengan cara hidup di masa sekarang, di momen saat ini. Hidup saat ini berarti tidak menggenggam kenangan di masa lampau, dan tidak berharap pada kemungkinan-kemungkinan di masa yang akan datang. Berikut adalah kutipan Sutta tersebut;

“Tak sepatutnya mengenang sesuatu yang telah berlalu,
tak sepatutnya berharap pada sesuatu yang akan datang
Sesuatu yang telah berlalu adalah hal yang lampau,
dan sesuatu yang akan datang adalah hal yang belum tiba.”[1]

Dari kutipan sutta tersebutlah kita dapat melihat, bahwa yang ingin diarahkan oleh Guru Agung Buddha adalah seseorang tidak sepatutnya melekat pada kenangan dan melekat pada sesuatu yang belum tiba. Masa lalu, kehidupan lampau, memang ada, akan tetapi hal itu ada bukan untuk digenggam terus menerus, bukan untuk dilekati terus menerus. Hal itu ada sebagai motivasi dan dorongan untuk kehidupan kita saat ini, dimana ketika ada kenangan buruk, kita mampu melepasnya dan berusaha untuk berubah, dan dimana ada kenangan baik kita gunakan sebagai motivasi, bukan malah bersenang dan menggenggam kenangan baik itu. Sebaliknya masa yang akan datang memang patut direncanakan, akan tetapi jangan kita banyak berencana tapi tidak banyak berbuat, yang mana hanya akan mendorong kita pada khayalan-khayalan akan hasil dari rencana tersebut, mendambakan hasil yang baik. Menjadi menderita ketika hasil tidak sesuai dengan khayalan, hasil tidak sesuai dengan rencana. Untuk itu kenanglah, berencanalah, tapi jangan lekati hal tersebut, jangan menggenggamnya teralu lama. Lepaslah kenangan-kenangan yang lampau, dan lepaslah harapan atau khayalan-khayalan di masa yang akan datang, hiduplah damai, saat ini, in the present moment.

Ingatlah melepas, melepas, dan melepas, untuk apa? Kebahagiaan. Sama halnya ketika kita makan dan minum. Ada kalanya saat setelah makan dan minum kita pasti akan buang air kecil atau buang air besar. Buang air kecil dan buang air besar adalah melepas, melepas sisa-sisa makanan dan minuman yang telah kita konsumsi. Ketika kita lancar dalam membuang air besar dan kecil, bukankah pencernaan kita lancar? Bahagia kan? Enak makan lagi kan? Itulah kebahagiaan karena melepas.


[1] Ñāṇamoli, Bhikkhu and Bhikkhu Bodhi. 1995. The Middle Length Discources of The Buddha, a New Translation of the Majjhima Nikāya. Buddhis Publication Society: Kandy, Sri Lanka. (hlm. 1039)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar