Kamis, 08 Mei 2014

PEMIMPIN DALAM PANDANGAN AGAMA BUDDHA



PEMIMPIN DALAM PANDANGAN AGAMA BUDDHA
Oleh: Sāmaṇera Yogi Guṇavaro Guṇapiyo

“Yo sahassa sahassena
saṅgāme mānuse jine
ekañca jeyyamattānaṁ
sa ve saṅgāmajuttamo.”
“Walaupun seseorang dapat menaklukan beribu-ribu musuh
dalam beribu kali pertempuran,
namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah
orang yang dapat menaklukan dirinya sendiri.”
(Dhammapada: 103)

Tahun 2014, tempat dimana kita tinggal Indonesia akan menyelenggarakan pesta akbar, yang telah menjadi kegiatan rutin setiap lima tahun. Pesta itu adalah pesta demokrasi. Ya, Indonesia akan mulai masuk dalam babak penentuan, yaitu menentukan siapa calon pemimpin berikutnya, pemimpin negara atau para pempin rakyat yang katanya mewakili harapan-harapan warga negara Indonesia. Pemimpin Negara atau Presiden, merupakan sosok penting dalam kepemerintahan yang berlangsung di Indonesia, beberapa kali Indonesia sudah mengganti pemimpinnya, mulai dari Indonesia merdeka 1945 sampai sekarang saat ini 2014 yang akan menjadi tahun baru bagi pemimpin baru. Banyak orang, banyak kalangan, mengejar posisi tersebut, posisi sebagai pimpinan negara ‘RI-1’ itu yang akrab di telinga kita. Orang tersebut berasal dari banyak kalangan, mulai dari pengusaha, purnawirawan, atau bahkan mantan-mantan penjabat negara. Dari latar belakang tersebut tentu sudah tidak aneh atau asing lagi apa itu kepemimpinan bagi mereka, sehingga apa yang seharusnya dilakukan dan dikerjaan mereka sudah paham sepenuhnya. Tetapi apakah iya, mereka paham sepenuhnya tentang kepemimpinan, terutama kepemimpinan yang ‘baik’.
Kepemimpinan secara umum berarti proses keseluruhan aktivitas untuk mempengaruhi orang lain atau suatu kelompok agar mau ikut serta dalam mencapai tujuan bersama. Artinya dalam proses kepemimpinan, seorang pemimpin harus berusaha mempengaruhi anggota kelompoknya untuk mencapai suatu tujuan, yang tentunya dilakukan secara bersama-sama. Dari proses kepemimpinan tersebut terdapat beberapa sifat pemimpin secara umum, pertama pemimpin yang bersifat  otoriter, kedua demokrasi, dan ketiga laissez faier (bersifat tidak aktif). Dari sifat tersebut jelas Indonesia yang merupakan negara demokrasi pasti memegang sifat pemimpin yang seharusnya demokrasi juga, yaitu dimana segala keputusan diputuskan secara bersama (musyawarah). Lalu bagaimana tanggapan orang mengenai pemimpin? Banyak orang bilang pemimpin itu harus syang bersikap adil, bijaksana, bersih, tidak korupsi, mau mebela rakyat kecil, itu tentu tanggapan dari masyarakat golongan bawah, sebaliknya masyarakat golongan atas pasti menginginkan pemimpin yang mau mendukung kebijakan-kebijakan ekonomi yang menguntungkan perusahaan. Dengan banyaknya penjelasan tentang apa itu pemimpin, dan bagaimana pemimpin yang baik kemudian Buddhisme memiliki uraian tersendiri tentang kepemimpinan.


Kepemimpinan Dalam Buddhisme
Dalam Khuddaka Nikāya – Jātaka Pāli V. 378 yang berisikan tentang kisah-kisah kelahiran Buddha diceritakan mengenai Dasa-Rāja Dhamma, yaitu sepuluh macam Dhamma untuk seorang raja atau pemimpin. Kesepuluh hal tersebut dapat dijadikan kriteria atau tolak ukur bagi seorang pemimpin, baik itu untuk menjadi pemimpin maupun untuk memilih pemimpin. Kesepuluh hal tersebut adalah:
1.       Däna (Kemurahan Hati)
Sebagai pemimpin harus memiliki sifat murah hati, mau memberi, dan menolong. Tidak pilih-pilih terhadap siapa yang akan ditolongnya.
2.       Sīla (Memiliki Moral Atau Melaksanakan Sīla)
Memiliki moral yang baik, sehingga dapat menjadikan dirinya sebagai teladanatau panutan. Dapat dilakukan dengan menjalankan sīla (mengindari pembunuhan, pencurian, asusila, berkata tidak benar, dan minum minuman keras).
3.       Pariccāga (Rela Berkorban)
Sorang pemimpin harus mau mengorbankan kesenangan pribadi untuk kepentingan orang banyak, arinya tidak mementingkan diri sendiri, dan mengkedepankan ego. Mau berkorban disini adalah mau berkorban materi, tenaga, pikiran, dan terutama waktu.
4.       Ājjava (Ketulusan Hati)
Ketulusan hati disini berari seorang pemimpin harus memiliki kejujuran berusaha menghindari ucapan tidak benar, bohong, atau menipu (musāvādā), dalam hal ini termaksud korupsi dan pencitraan diri agar dipandang baik.
5.       Maddava (Ramah Tamah)
Seorang pemimpin harus mampu bersikap ramah, ramah tamah dalam arti ia mau diajak untuk berunding dan bertukar pikiran, terlebih lagi ia mau menerima pendapat orang lain.
6.       Tapa (Kesederhanaan)
Memiliki kesederhanaan baik dalam ucapan atau perbuatan jasmani (tingkah laku). Seorang pemimpin yang memiliki kesederhanaan tersebut akan mendapatkan tanggapan baik dari masyarakat.
7.       Akkodha (Tidak Pemarah)
Bebas dari kebencian dan tidak menyimpan dendam, hendaknya seorang pemimpin membangun sifat demikian sehingga ia akan menciptakan kedamaian, baik bagi dirinya dan lingkungannya.
8.       Avihiṁsā (Tidak Melakukan Kekerasan)
Seorang pemimpin harus memimpin dengan tanpa kekerasan, baik itu melalui jasmani atau ucapan, dan berusaha tidak menghancurkan anggotanya.
9.       Khanti (Kesabaran)
Seorang pemimpin dalam kepemimpinannya harus diiringi dengan sikap sabar dan telaten dalam memimpin dan dalam setiap permasalahan yang ada dalam kepemimpinannya.
10.   Avirodhana (Tidak Bertentangan Dengan Kebenaran)
Artinya seorang pemimpin harus mampu melaksanakan aturan-aturan yang ada pada tempat ia memimpin, yang dimana aturan-aturan tersebut menjadi dasar kebenaran dalam ruang lingkup kepemimpinannya.
Itulah kesepuluh hal yang dapat dijakdikan sebagai kriteria atau tolak ukur seorang pemimpin dalam Agama Buddha. Kesepuluh hal tersebut juga salaing berkaitan satu dengan yang lainnya, artinya ketika seorang pemimpin memiliki sifat murah hati, ia tentu akan memiliki moral yang baik, moral yang baik  tentu mendorong ia untuk rela berkorban, rela berkorban yang ia miliki karena moral yang baik akan tentu didasari oleh ketulusan, dari ketulusan yang ia miliki disetiap pekerjaannya tentu mebangun keramahan sikap, orang yang ramah tentu kesederhanaan yang dibangunnya, orang yang memiliki moral, tulus, murah hati tentu akan menghindari sifat marah dan kekerasan dalam kehidupannya, sabar jelas ada didalamnya dan apapun yang dilakukan pasti sesuai dengan dasar kebenaran yang ada.
Kesepuluh hal tersebut jika terdapat dalam diri seorang pemimpin, tentu akan membawa kepemimpinannya menuju kesuksesan dan keberhasilan dari pencapaian tujuan-tujuannya. Pemimpin yang baik tentu bukan pemimpin yang berusaha membuang tujuan-tujuan awalnya, tetapi tentu ia berusaha dengan keras untuk mencapai tujuannya terlebih lagi tujuan tersebut adalah tujuan yang membawa keuntungan bagi orang banyak, membawa kesejahteraan dan kemajuan. Dengan demikian untuk memilih seorang pemimpin kesepuluh hal tersebut dapat dijadikan sebagai kriteria dalam memilih calon pemimpin. Jadi untuk apa kita takut dalam memilih pemimpin, jika kita sudah tahu bagaimana ciri-ciri pemimpin yang baik sesuai dengan ajaran Agama Buddha. Dan tentunya bagi calon pemimpin, untuk terpilih dan dapat sukses dalam kepemiminannya peganglah dengan tekad kuat dan dengan semangat (Viriya) kesepuluh hal tersebut, maka apa yang menjadi tujuan dasar dan cita-cita yang diharapkan akan terlaksana dan didapat dengan baik, tentu setelah didapat haruslah dirawat sesuai dengan Dhamma, sesuai dengan kesepuluh hal itu juga.
Mendut, 16 April 2014 – 23:15 WIB

Kepustakaan:                                   
-       Kaharuddin, Pandit Jinaratana. 2004. Kamus Umum Buddha Dhamma (Pāli – Sansekerta – Indonesia).  Tri Sattva Buddhist Center, Jakarta.
-       Soetarno, Drs. R. 1989. Psikologi Sosial. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
-       Supandi, Cunda J. 1995. Tatabahasa Pāli. Yayasan Penerbit Karaniya, Bandung.
-       Tim Penyusun. 2013. Kitab Suci Dhammapada. Penerbit Bahussuta Society, Singkawang Selatan. (Penerjamah Indonesia: YM. Phra Rājavarācāriya ‘Bhante Win Vijāno’, Penerjemah Inggris: Ven. Acharya Buddharakkhita, dan Penerjemah Mandarin: Ven. Bhikkhu Dhammavaro ‘Fa Zhen’)
-       Tim penyusun, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta.


1 komentar:

  1. Senarai kepemimpinan dalam perspektif para ilmuwan dunia sbg pembelajaran.
    Orang bijak agun, sabdakan intisari sikap kepemimpinan diera modern disebut sebagai pemimpin yang sangag elegant thinking ;
    Diantara orang - orang pembenci, pendendam, pemfitnah, dan konspirasi sikap apapun
    Kita jangan jangan lantas ikut membenci dalam artian alasan solidaritas, kelompok, emansipasi dan atau hal lain ,misalnya ; alasan etnis, suku, rasianilisme, dan agama kemudian membenci demikian.
    Sikap sangat bijak dalam ajaran sabda Buddha adalah rasionalitas sempurna baik dalam sokap maupun berwawasan sebagai seorang pemimpin dunia.
    Sikap itu dalam nasehatnya ; jangan ikut membenci diantara orang -orang yang membenci, fitnah, konsprasi, dendam itu. Namun cinta kasih dengan bijak di kedepankan pada sikap prilaku yang betul betul baik adanya.

    Ada model kepemimpinan baik sekali dari pakar ilmuwan dunia itu ;
    K5 =sebagai kata kunci bukan kaki lima istnot this it.
    K yang pertama adalah karakter baik
    K yang kedua adalah komitmen dalam sikap prilaku secara lahir batin
    K yang ketiga adalah kerja sama yang baik sama sama menguntungkan positif
    K yang ke empat adalah kompensasi dalam sotuasi dan kondisi disesuaikan
    K yang ke lima adalah konsistensi dalam kunci akhir kelima hal ini, harus di usahakan denban maksut baik totalitas sebagai profesionalisme pemimpin yang baik

    BalasHapus