Rabu, 26 Agustus 2015

Ditengah kesibukan kita 'ia' tidak pernah meninggalkan kita


Ditengah kesibukan kita 'ia' tidak pernah meninggalkan kita.

Belajarlah dari alam, maka engkau akan memaknai hidup ini dengan mendalam dan banyak keindahan yang akan kamu rasakan.

Buku, pendidikan, sekolah, universitas, sekolah tinggi, atau kursus-kursus, semua itu baik adanya untuk menambah pengetahuan dalam diri kita. Akan tetapi ada satu Guru, Ilmu, atau Pengetahuan yang tak jauh penting, yang terkadang kita lupa akannya. Alam, itulah guru dan ilmu yang paling nyata yang ada di dekat kita. Seperti halnya gambar di atas, demikian indah ketika kita mampu menerjemahkan alam ini laksana pengetahuan. Belajar menjadi manusia yang unggul, berarti belajar menjunjung tinggi alam ini. Menjunjung keberadaannya ibarat pengetahuan yang sangat berharga.

Alam, Matahari, Bumi, dan isinya mengajarkan kita banyak hal. Seperti halnya matahari, ada satu hal yang sangat indah yang dapat kita terjemahkan darinya yaitu, 'ditengah kesibukan kita sebagai umat manusia, matahari 'ia' tidak pernah meninggalkan kita.' Alangkah indah ketika kita mampu menerapkan sifat seperti matahari di dalam kehidupan ini. Menerapkan bahwa, se-sibuk apapun kita, se-sibuk apapun pekerjaan kita, ada satu hal yang harus kita tidak tinggalkan, keberadaan manusia dan makhluk lainnya. Keberadaan mereka yang tak mungkin kita kucilkan, keberadaan mereka yang membuat semuanya berjalan dengan baik. Karena ingat! Tanpa dukungan banyak orang, tidak ada kita yang 'saat ini'. Jadi! se-sibuk apapun kita, ingatlah mereka yang telah berjasa bagi kita, ingatlah mereka yang berada di bawah kita.

Minggu, 23 Agustus 2015

Bahagia di dalam Dhamma adalah Bahagia Karena Melepas; Bukan Menggenggam

Bahagia di dalam Dhamma adalah Bahagia Karena Melepas; Bukan Menggenggam.

Banyak orang berbicara tentang kebahagiaan, menafsirkan arti dari kebahagiaan-kebahagiaan. Namun sesungguhnya apa arti kebahagiaan itu sendiri?

Kebahagian boleh saja orang mengartikannya, ketika memiliki ini dan itu, ketika mampu pergi kesana dan kamana pun, atau ketika kaya atau sukses. Buddhisme menyikapinya dengan hal lain.

Buddhisme memberikan pandangan, Bahagia adalah ketika melepas, bukan menggenggam, bukan memiliki, tetapi melepas, melepas, dan melepas. Bahagia karena melepas berarti bahagia karena tidak terikat. Tidak terikat akan suatu hal membuat kita tidak menderita, baik ketika kehilangan, atau ditinggalkan. Itulah kebahagiaan dalam Buddhis, kebahagiaan di dalam Dhamma.

Jumat, 21 Agustus 2015

Akan Ada Titik Terang di Dalam Kegelapan

Akan Ada Titik Terang di Dalam Kegelapan

Banyak orang selalu merasa gagal dan putus asa ketika dihadapkan pada suatu permasalahan, yang bahkan bisa membuatnya bunuh diri.

Di dalam kehidupan ini seseorang tidak pernah luput dari yang namanya masalah. Masalah selalu datang bergantian, selalu datang dan selalu kita tolak. Mengapa kita selalu merasa gagal dan putus asa ketika dihadapkan pada permasalahan? karena kita menolaknya. Hal pertama, terimalah masalah itu, biarkan ia datang, berikan kasih pada masalah itu. Hal kedua, yakinkan diri anda bahwa masalah itu dapat selesai. Merasa yakin dapat selesai karena kita melihat masalah-masalah yang lalu, masalah lain yang pernah datang dan berlalu, dengan demikian kita akan termotivasi untuk menghadapi masalah yang datang saat ini dan berusaha menyelesaikannya.

Ingat! Akan ada titik terang di dalam kegelapan. Akan ada jalan keluar di balik permasalahan yang ada. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, yang ada hanya ketakutan kita sehingga tidak mudah berfikir bahwa masalah tersebut dapat diselesaikan. 

Kamis, 20 Agustus 2015

Apa yang kita lihat, belum tentu itu yang sesungguhnya


Apa yang kita lihat, belum tentu itu yang sesungguhnya.
- 20082015 -

Terkadang kita teralu dimanjakan oleh pemandangan yang dilihat, menjadi senang karena keindahannya, dan menjadi tidak senang karena apa yang dilihat adalah hal buruk. Melihat apa yang disenangi, kita melupakan sisi lain yang tidak menyenangkan. Melihat hal yang tidak disenangi, kita menjadi kecewa - kecil hati - putus asa, dan kemudian melupakan adanya hal indah di sisi lain.

Itulah mengapa dikatakan "apa yang kita lihat, belum tentu itu yang sesungguhnya." Pernyataan tersebut mengarahkan kita untuk melihat secara menyeluruh, melihat secara mendalam terhadap apa yang kita lihat - apa yang kita pandang. Melihat secara menyeluruh dan mendalam diiringi rasa kasih dan kepedulian (deep and compassion looking). Dengan demikian tidak akan ada kekecewaan, tidak akan ada keteralutan terhadap hal yang menyenangkan.

Ingat! Apa yang kita lihat, belum tentu itu yang sesungguhnya. Lihatlah secara menyeluruh, lihatlah dengan kebijaksanaan, jangan menilai dan menganalisa terlebih dahulu, tapi lihatlah dengan baik. Kita akan semakin menderita jika kita hanya berspekulai terhadap satu sisi. Tapi kita akan bahagia ketika kita tidak berspekulasi terhadap apa yang kita lihat.

KETAHUI SIAPA DIRIMU DAN BERIKAN REVOLUSI UNTUKNYA



KETAHUI SIAPA DIRIMU DAN BERIKAN REVOLUSI UNTUKNYA
(Mengulas Vajirupamasutta dan Pañca-anupubbikatha)
Oleh: Bhikkhu Guṇapiyo

Attānañce piyaṁ jaññā,
rakkheyya naṁ surakkhitaṁ
tiṇṇamaññataraṁ yāmaṁ,
paṭijaggeyya paṇḍito’ti

Bila orang mencintai dirinya sendiri,
maka ia harus menjaga dirinya dengan baik.
Orang bijaksana waspada selama tiga masa dalam kehidupannya.
(Dhammapada, Atta Vagga: 157)


Ada orang yang baik, ada orang yang kurang baik. Ada orang yang pintar, ada orang yang kurang pintar. Ada orang yang mudah diajar, ada juga orang yang kuang ajar. Ada wanita cantik, ada pria tampan. Ada yang kurang cantik atau tampan, ada juga sang sangat kurang cantik dan tampan. Keberagaman, perbedaan, dan uniknya satu dengan yang lainnya, itulah warna dari kehidupan ini. Setiap manusia, setiap makhluk, memiliki perbedaan masing-masing, sekalipun dia adalah anak kembar – kembar identik akan tetapi dalam hal sifat atau karakter keduanya pasti memiliki sifat yang berbeda. Sifat atau kebiasaan yang membedakan satu dengan yang lainnya, menentukan tingkat keberhasilan seseorang di dalam hidupnya, baik itu dalam hal kesuksesan materi atau batin (mental).

KEBAHAGIAAN KARENA MELEPAS



SEKILAS DHAMMA UNTUK MELEGAKAN DAHAGA
KEBAHAGIAAN KARENA MELEPAS
Oleh: Bhikkhu Guṇapiyo

Sabbehi me piyehi manāpehi nānābhāvo vinābhāvo
(segala miliku yang kucintai dan kusenangi wajar berubah, wajar terpisah dariku)


Kebahagiaan sejati bagi umat Buddha adalah kebahagiaan karena melepas. Kalimat pembuka tersebut mungkin dapat menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung selesai, mengapa demikian? Karena tidak sesuai dengan pola kebiasaan. Sisi lain menyatakan, bahagia itu ketika memiliki ini dan itu, memiliki sesuatu atau sepuluhatu, yang pasti dapat memiliki apa yang diinginkan. Buddhisme memiliki cerita dan pola lain dalam menyatakan kebahagiaan sejati, bahkan menurut mata seorang Buddhis, lahir di alam surga pun! Belum termasuk dalam kebahagiaan sejati.

Melepas berarti tidak menggenggam, tidak melekati, tidak memeluk, tidak menyimpan terus menerus, dan tidak yang tidak-tidak. Mengapa tidak menggenggam atau melepas merupakan kebahagiaan sejati menurut Buddhisme? Mari kita awali dengan satu cerita.

Suatu pagi yang cerah, lari dengan bahagia seorang pemuda tampan bernama Rukkha. Ia sangat senang sekali, sangat bahagia, karena di pagi itu ia mendapatkan hadiah dari kedua orangtuanya. Hadiah ini sudah ia idam-idamkan lama sekali, sebuah gadget canggih keluaran terbaru, sebut saja Apem 6-. Anak muda mana yang tidak menginginkannya, semua ingin memilikinya, bahkan dengan segala cara. Berbeda dengan Rukkha, ia memperolehnya dengan cara susah payah, ia bekerja membantu kedua orangtuanya selama berminggu-minggu, menjaga toko dan melayani pembeli. Senangnya Rukkha saat itu tidak bisa dituliskan atau digambarkan, ia sangat mengagumi barang tersebut, ia sangat bangga dengan perolehannya, hingga tidak sadar.... ia menderita, ia takut, ia sedih, ia merasa tidak aman, kenapa? Rukkha enggan membuka bungkus plastiknya, enggan membuka kardusnya, bahkan ia enggan menggunakannya. Ia teralu senang, ia teralu bangga, sampai ia takut barang itu rusak, dicuri, dipinjam, di.. di.. di... dan jadilah ia menderita.