Jumat, 22 Januari 2016

Ebook KDAB 24 Januari 2016


 Ebook ini adalah berisikan panduan KDAB (Kursus Dasar Agama Buddha) yang berlangsung di Vihara Theravada Buddha Sasana, Kelapa Gading - Jakarta.

Buku panduan ini dibuat untuk melengkapi KDAB dengan materi Pali Wacana, Makna & Manfaat Paritta, Lambang-lambang dalam Agama Buddha, dan Ungkapan dalam Agama Buddha. Dimana materi ini disampaikan oleh Bhikkhu Gunapiyo.

Silahkan bagi anda yang membutuhkan Ebook ini, dapat didownload melalui link di bawah.

Terimakasih,
Salam Metta,
Semoga Bermanfaat.
-Admin-

<<Link Download>>

Rabu, 23 September 2015

Cahaya - Hidup ini singkat namun membekas


Cahaya - Hidup ini singkat namun membekas

Siapa yang benar-benar menyadari bahwa hidup ini sangatlah singkat. Kebanyakan kita menganggap hidup ini adalah perjalanan panjang, sehingga menikmati hidup dan bersenang-senang di dalamnya adalah sebuah keharusan yang harus kita kejar. Namun jauh di balik itu, ada sesuatu yang tersembunyi, ya hidup ini singkat. Hidup ini menjadi singkat karena kita tidak pernah tahu kapan kematian datang, dimasa-masa yang tidak pasti itulah kita harus mengisi waktu dengan sesuatu yang baik, agar di dalam ke-singkatan-nya ada sesuatu yang baik yang kita tinggalkan. Cahaya pun sama singkatnya dan membekas, demikian hidup laksana cahaya, yang singkat namun membekas.

Minggu, 06 September 2015

Mari Belajar Untuk Kehidupan yang Lebih Baik



Tangerang, Minggu (06/09/15) - Belajar adalah hal yang sangat penting bagi kemajuan hidup kita. Tanpa belajar kita tidak mungkin memperoleh pengetahuan, dan tidak mungkin dapat mengerti suatu hal. Konsep atau mental yang 'masa bodoh' merupakan penyakit yang mengakibatkan pada kematian. Kematian mental yang tidak akan pernah berkembang, atau kematian lingkungan tempat ia tinggal. Mengapa demikian?

Sering kali kita mendengar kata 'ya sudahlah, orang kemampuan saya cuman begini, mau bagaimana lagi.' Kalimat pernyataan demikianlah yang akan menjadi faktor utama kita tidak pernah berkembang, dan tidak pernah mengalami kemajuan di dalam kehidupan ini. Merasa cukup sampai pada titik itu, merasa sudah tidak bisa apa-apa, hingga pada akhirnya tidak mau belajar kembali. Itulah sebabnya, pernyataan berpuas pada keadaan tidak berlaku pada 'belajar', seseorang yang senantiasa belajar, belajar, dan terus belajar akan jauh lebih paham mengenai kehidupan ini secara luas. Alih-alih merasa cukup dengan yang ada, ia hanya bermalas-malas tidak ingin belajar kembali.

Hal berikutnya yang harus sering kali kita tekankan, terkadang kita merasa diri kita benar atau sudah baik. Akan tetapi itu hanya pandangan dari dalam 'inside', lalu bagaimana dengan pandangan dari luar 'out'? Pandangan dari luar pun harus kita dengar, untuk apa? untuk  perbaikan diri. Ya! ada orang yang tidak senang untuk dinasihati, diberitahu, atau bahkan dikritik. Orang dengan jenis seperti ini adalah orang yang akan selalu terpuruk di dalam kebencian, di dalam penderitaan, dan di dalam kebodohannya. Dalam Anguttara Nikaya - Vajirupamasutta, Buddha pernah mengatakan bahwa ada satu jenis manusia seperti hal demikian, yang di ibaratkan manusia dengan pikiran seperti luka mengangah Arukhupamacitta Puggala.  Artinya semakin ia tidak senang dinasihati, semakin ia membuat dirinya terluka lebar, semakin menderita dan semakin kesakitan. Layaknya luka yang mengangah, ketika di garuk maka lukanya akan semakin parah.

Untuk itulah, mari kita bersama-sama mengarahkan diri ini kearah yang lebih baik, dengan cara belajar, belajar, dan belajar. Dengan belajar seseorang akan memperoleh pengetahuan, dari pengetahuan yang diperoleh tersebut maka apa yang akan diucapkannya adalah apa yang baik, tidak sembarang omong asal bunyi. Akan tetapi ingat, belajar saja tidak cukup, untuk itu kita harus praktik kerendahan hati dengan cara, ketika dinasihati, ketika kita mendapat kritikan, dengarkanlah, terimalah, pelajarilah, dan kemudian berubahlah jika kita salah. Sehingga dengan demikian, harmonisasi akan terbangun didalam kehidupan kita.

Selamat belajar, selamat belajar memiliki kerendahhatian.

Rabu, 26 Agustus 2015

Ditengah kesibukan kita 'ia' tidak pernah meninggalkan kita


Ditengah kesibukan kita 'ia' tidak pernah meninggalkan kita.

Belajarlah dari alam, maka engkau akan memaknai hidup ini dengan mendalam dan banyak keindahan yang akan kamu rasakan.

Buku, pendidikan, sekolah, universitas, sekolah tinggi, atau kursus-kursus, semua itu baik adanya untuk menambah pengetahuan dalam diri kita. Akan tetapi ada satu Guru, Ilmu, atau Pengetahuan yang tak jauh penting, yang terkadang kita lupa akannya. Alam, itulah guru dan ilmu yang paling nyata yang ada di dekat kita. Seperti halnya gambar di atas, demikian indah ketika kita mampu menerjemahkan alam ini laksana pengetahuan. Belajar menjadi manusia yang unggul, berarti belajar menjunjung tinggi alam ini. Menjunjung keberadaannya ibarat pengetahuan yang sangat berharga.

Alam, Matahari, Bumi, dan isinya mengajarkan kita banyak hal. Seperti halnya matahari, ada satu hal yang sangat indah yang dapat kita terjemahkan darinya yaitu, 'ditengah kesibukan kita sebagai umat manusia, matahari 'ia' tidak pernah meninggalkan kita.' Alangkah indah ketika kita mampu menerapkan sifat seperti matahari di dalam kehidupan ini. Menerapkan bahwa, se-sibuk apapun kita, se-sibuk apapun pekerjaan kita, ada satu hal yang harus kita tidak tinggalkan, keberadaan manusia dan makhluk lainnya. Keberadaan mereka yang tak mungkin kita kucilkan, keberadaan mereka yang membuat semuanya berjalan dengan baik. Karena ingat! Tanpa dukungan banyak orang, tidak ada kita yang 'saat ini'. Jadi! se-sibuk apapun kita, ingatlah mereka yang telah berjasa bagi kita, ingatlah mereka yang berada di bawah kita.

Minggu, 23 Agustus 2015

Bahagia di dalam Dhamma adalah Bahagia Karena Melepas; Bukan Menggenggam

Bahagia di dalam Dhamma adalah Bahagia Karena Melepas; Bukan Menggenggam.

Banyak orang berbicara tentang kebahagiaan, menafsirkan arti dari kebahagiaan-kebahagiaan. Namun sesungguhnya apa arti kebahagiaan itu sendiri?

Kebahagian boleh saja orang mengartikannya, ketika memiliki ini dan itu, ketika mampu pergi kesana dan kamana pun, atau ketika kaya atau sukses. Buddhisme menyikapinya dengan hal lain.

Buddhisme memberikan pandangan, Bahagia adalah ketika melepas, bukan menggenggam, bukan memiliki, tetapi melepas, melepas, dan melepas. Bahagia karena melepas berarti bahagia karena tidak terikat. Tidak terikat akan suatu hal membuat kita tidak menderita, baik ketika kehilangan, atau ditinggalkan. Itulah kebahagiaan dalam Buddhis, kebahagiaan di dalam Dhamma.

Jumat, 21 Agustus 2015

Akan Ada Titik Terang di Dalam Kegelapan

Akan Ada Titik Terang di Dalam Kegelapan

Banyak orang selalu merasa gagal dan putus asa ketika dihadapkan pada suatu permasalahan, yang bahkan bisa membuatnya bunuh diri.

Di dalam kehidupan ini seseorang tidak pernah luput dari yang namanya masalah. Masalah selalu datang bergantian, selalu datang dan selalu kita tolak. Mengapa kita selalu merasa gagal dan putus asa ketika dihadapkan pada permasalahan? karena kita menolaknya. Hal pertama, terimalah masalah itu, biarkan ia datang, berikan kasih pada masalah itu. Hal kedua, yakinkan diri anda bahwa masalah itu dapat selesai. Merasa yakin dapat selesai karena kita melihat masalah-masalah yang lalu, masalah lain yang pernah datang dan berlalu, dengan demikian kita akan termotivasi untuk menghadapi masalah yang datang saat ini dan berusaha menyelesaikannya.

Ingat! Akan ada titik terang di dalam kegelapan. Akan ada jalan keluar di balik permasalahan yang ada. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, yang ada hanya ketakutan kita sehingga tidak mudah berfikir bahwa masalah tersebut dapat diselesaikan. 

Kamis, 20 Agustus 2015

Apa yang kita lihat, belum tentu itu yang sesungguhnya


Apa yang kita lihat, belum tentu itu yang sesungguhnya.
- 20082015 -

Terkadang kita teralu dimanjakan oleh pemandangan yang dilihat, menjadi senang karena keindahannya, dan menjadi tidak senang karena apa yang dilihat adalah hal buruk. Melihat apa yang disenangi, kita melupakan sisi lain yang tidak menyenangkan. Melihat hal yang tidak disenangi, kita menjadi kecewa - kecil hati - putus asa, dan kemudian melupakan adanya hal indah di sisi lain.

Itulah mengapa dikatakan "apa yang kita lihat, belum tentu itu yang sesungguhnya." Pernyataan tersebut mengarahkan kita untuk melihat secara menyeluruh, melihat secara mendalam terhadap apa yang kita lihat - apa yang kita pandang. Melihat secara menyeluruh dan mendalam diiringi rasa kasih dan kepedulian (deep and compassion looking). Dengan demikian tidak akan ada kekecewaan, tidak akan ada keteralutan terhadap hal yang menyenangkan.

Ingat! Apa yang kita lihat, belum tentu itu yang sesungguhnya. Lihatlah secara menyeluruh, lihatlah dengan kebijaksanaan, jangan menilai dan menganalisa terlebih dahulu, tapi lihatlah dengan baik. Kita akan semakin menderita jika kita hanya berspekulai terhadap satu sisi. Tapi kita akan bahagia ketika kita tidak berspekulasi terhadap apa yang kita lihat.